Text
Hujan Pertama untuk Aysila
Suara kecil dari balik jendela kafe yang terkuak di sebelah kursi Aysila itu terdengar begitu lambat. Nyaris punah ditelan bising hujan. Suara yang amat dikenal Aysila dengan baik, yang begitu karib dengan hari-harinya.rnSetelah diam beberapa jenak untuk berfikir, Aysila menjulurkan kedua lengannya keluar jendela, memenuhi pinta suara yang lirih itu. Ia biarkan tubuhnya ditarik dari luar dan hinggap sempurna dalam pelukan tubuhnyayang hangat itu.rnHujan kian mengundur. Hujan kian menyusut. Tapi tidak dengan sepasang mata Aysila yang katup. Air hangat yang tak sanggup lagi ia bendung tanggul hatinya yang kian nganga dibabat luka begitu deras menetes dipematang matanya. Berjatuhan dipipinya, lalu sebagiannya hinggap ke dagunyadan lehernya, dan sebagian lainnya jatuh ketanah, larut bersama air hujan, kemudian lesat entah kemana....
| 20341XXF1 | 813 EDI h | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain